Ponpes Bumi Sholawat: Santri Harus Berhati Mekah, Berotak Habibie

Sidoarjo, Wikisantri.id – Berpulangnya Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie meninggalkan duka mendalam seluruh kalangan, termasuk para santri. Kalangan santri memandang BJ Habibie sebagai sosok yang layak diteladani.

Direktur Pendidikan Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, Muhdor Ali, bagi kalangan santri, Habibie adalah cerminan ideal tentang kegigihan dalam menuntut ilmu.

“Dunia santri ini kan dunia yang menuntut ilmu sampai akhir hayat, utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi, atau dalam bahasa di ilmu kependidikan itu long life education. Apa yang dilakukan Pak Habibie sepanjang hidupnya mencerminkan itu. Jadi kita para santri harus meneladani beliau,” ujar Muhdor kepada wartawan, Kamis (12/9/2019).

Menurut Muhdor, sains dan teknologi kini mulai menjadi tradisi bagi para santri. Bahkan upaya mendekatkan sains dan teknologi dimulai sejak dari pendidikan dasar. Banyak santri pun menjadikan Habibie sebagai inspirator saat menuntut ilmu.

“Sampai-sampai kan di seluruh kalangan santri muncul istilah yang sangat terkenal, yaitu santri harus berhati Mekah, berotak Habibie. Visi keilmuan agama berpadu dengan visi sains serta teknologi, karena memang itu tak bisa dipertentangkan. Agama mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelas Gus Muhdor, sapaan akrabnya.

“Buktinya, banyak ayat di Alquran yang memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk mencermati alam semesta. Artinya, kita dituntut mempelajari sains dan teknologi. Banyak ayat yang juga disertai pertanyaan afala ta’qilun atau afala tatafakkarun, yang artinya tidakkah kamu sekalian berpikir,” imbuh putra KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) tersebut.

Menurut Gus Muhdor, dengan penguasaan sains dan teknologi, para santri bisa membantu masyarakat banyak serta memajukan daerah serta negara. “Kalau santri kan jelas cinta NKRI, jadi teknologi yang dikuasai pasti untuk kemaslahatan, bukan untuk merongrong negara,” ujar alumnus Ponpes Lirboyo, Kediri, itu.

Di Ponpes Bumi Sholawat sendiri, ujar Gus Muhdor, sains dan teknologi diperkenalkan secara intens. Berbagai laboratorium berbasis teknologi ada di pesantren tersebut. Lomba sains antarsantri kerap digelar untuk memacu para santri menguasai teknologi.

“Dengan meneladani Pak Habibie, kami ke depan terus memperkuat tradisi sains dan teknologi di kalangan anak-anak muda Sidoarjo dan dari seluruh Indonesia yang mondok di sini. Semoga lahir Habibie-Habibie baru di pesantren dan komunitas pendidikan yang ada di Sidoarjo,” ujar Gus Muhdor, yang juga alumnus Universitas Airlangga, Surabaya.

Gus Muhdor juga mengajak seluruh santri melakukan salat gaib serta bertahlil untuk Habibie. Di lingkungan pesantren juga dikibarkan bendera setengah tiang.

“Kami juga sudah mengontak para wali santri untuk bersama-sama mengirimkan Al-Fatihah untuk Pak Habibie,” ujarnya.

Sumber: Detik

 

Facebook Comments Box
Exit mobile version