More

    Sejarah di balik kebesaran Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang

    Pondok Pesantren al-Anwar yang berada di Karangmangu, Sarang, Rembang, berdiri pada 1967, merupakan Ponpes yang cukup terkenal dan disegani oleh masyarakat Rembang, baik kalangan pemerintah maupun masyarakat. Mulanya, Ponpes al-Anwar adalah sebuah kelompok pengajian yang dirintis oleh KH. Ahmad Syuaib dan Zubair Dahlan. Kelompok pengajian tersebut pada awalnya dilaksanakan di mushala. Pada perkembangan selanjutnya kedua perintis tersebut mendirikan tiga komplek bangunan, yaitu komplek A, B dan C.

    Baca juga:

    Komplek A dikembangkan menjadi Ponpes al-Anwar oleh KH Maimun Zubair, putra KH Zubair Dahlan. Sedangkan Komplek B dikembangkan oleh KH Abdul Rochim Ahmad menjadi Ponpes Ma’hadul Ulumis Syar’iyah. Latar belakang pendirian Ponpes di samping untuk melanjutkan kegiatan pengajian, juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Keadaan ekonomi masyarakat umumnya rendah dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan yang sebagian besar tingkat pendidikannya hanya sampai SD. Sikap keberagamaan masyarakat setempat juga masih rendah.

    Pada waktu berdiri Ponpes Al-Anwar, jumlah penduduk desa di sekitarnya 1.800 jiwa yang menyebar di lima desa, yaitu Karang Anyar, Sarang, Serdang Mulyo, Beji Jiwo, dan Beji, Meduro. Masyarakat mayoritas beragama Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari ku- rang mencerminkan nilai-nilai Islam. Artinya, agama belum dijadikan sumber nilai dalam berbagai bidang kehidupan baik individu mau- pun masyarakat.

    Kondisi masyarakat di atas menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi KH Maimun Zubair. Keprihatinan itu dirasakan setelah beliau mendalami ilmu agama di berbagai tempat di Timur Tengah, yaitu di Mekah, Mesir, dan Syria.

    Pada awal pendirian, semua biaya keperluan Ponpes berasal dari kekayaan KH. Maimun Zubair. Kepiawaiannya sebagai peda- gang, mengantarkannya menjadi ketua koperasi di Rembang. Semua itu dilakukan oleh KH. Maimun Zubair semata-mata karena mengharap ridlo dari Allah Swt.

    Beliau juga pernah menjadi anggota MPR sebagai Utusan Golongan dan merupakan sosok kyai yang sangat disegani, baik oleh masyarakat di daerah maupun tingkat nasional.

    Masyarakat dan Potensi Wilayah

    Ponpes al-Anwar berada di Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasi Pondok Pesantren dekat dengan jalan raya yang menghubungkan Propinsi Jawa Tengah dan jawa Timur. Oleh karena itu, untuk menuju Ponpes sangat mudah, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

    Pada awal tahun 2001 jumlah penduduk Kecamatan Sarang 200.000 jiwa. Tingkat pendidikannya cukup beragam, tetapi sebagian besar berpendidikan SD. Islam merupakan mayoritas yang dipeluk oleh masyarakat (97%), selebihnya adalah pemeluk agama lain (Kristen). Adanya Ponpes kehidupan beragama semakin semarak, yang tercermin dari meningkatnya jumlah tempat ibadah, semaraknya kegiatan keagamaan dan suasana yang religius.

    Karangmangu, sebelumnya bernama Karangkembang, tempat di mana Pondok Pesantren Al-Anwar berada- adalah sebuah desa di tepi laut utara Jawa Tengah bagian timur. Desa ini bagian dari kecamatan Sarang kabupaten Rembang.

    Mengingat letaknya yang berada di pesisir pantai utara, kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Sementara profesi sebagian penduduk yang lain adalah petani dan pedagang.

    Di pagi hari, umumnya penduduk sekitar Pondok Pesantren Al-Anwar pergi melaut untuk mencari ikan, baik dengan peralatan tradisional maupun modern.

    Penduduk desa Karangmangu, Sarang, Rembang ini adalah hasil asimilasi dua suku Jawa dan Madura. Para penduduk sekitar merasa sangat beruntung dengan kehadiran Pondok Pesantren Al-Anwar. Kerasnya kehidupan keseharian akibat lingkungan kerja mereka mendapatkan tempat teduhnya yang dengan keberadaan aktifitas pengajian dan kegiatan positif lain yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Anwar. Dengan begitu, Al-Anwar dapat menjadi social control bagi penduduk sekitarnya. Di samping itu, kharisma pengasuh, KH Maimoen Zubair, menjadikan beliau sebagai rujukan sejuk dalam rangka mencari solusi masalah-masalah sosial ekonomi yang mereka hadapi serta memiliki peran penting dalam penyelesaian permasalahan yang timbul di antara mereka.

    Pengambangan Masyarakat

    Di samping menjadi agen taffaqquh fiddin, pesantren juga menjadi agen pengembangan masyarakat. Peran serta dan kontribusi Pesantren dalam bidang ini tidak diragukan lagi. Sekedar menunjuk bukti, banyak para alumni Pesantren yang menjadi tokoh masyarakat, pejabat pemerintah serta profrsi lainnya yang berhubungan langsung dengan pengembangan dan pendayagunaan masyarakat.

    Dalam hal ini Pondok Pesantren Al-Anwar memberikan pelatihan khusus dan kesempatan magang di beberapa tempat yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kepentingan pengembangan Pondok Pesantren Al-Anwar.

    Para santri dikirim ke beberapa wilayah di Madura, Malang, Brebes dan wilayah lainnya, ternasuk Papua. Program ini juga diwujudkan dengan menyelenggarakan pengajian mingguan untuk masyarakat sekitar yang langsung diampu oleh Asy Syaikh Maimoen Zubair. Hal ini meruapakan bentuk kepedulian Pondok Pesantren Al-Anwar kepada masyarakat sekitar lokasi Pesantren. Dengan begitu Pesantren berfungsi sebagai fasilitator dan instrumen.

    Pusat Isu di Jawa Tengah

    Tahukan Anda jika pesantren Al-Anwar tidak anti dengan politik, bahkan ikut serta. Sehingga pesantren ini sangat mewarnai peta perpolitikan Indonesia. Model demikian tidak banyak dilakukan oleh pesantren di Indonesia, cenderung menjauh.

    Namun Ponpes Al-Anwar Sarang bermain sangat cantik. Tidak terlalu vokal dengan kasar, lebih kepada memiliki sikap santun. Inilah mengapa setiap ada hajatan politik pesantren ini selalu ramai. Dikunjungi calon presiden, dikunjungi calon gubernur, dikunjungi calon bupati. 

    Karena itu pula nama Pesantren Sarang Rembang ini selalu menjadi pusat isu di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. Nama pesantren Al-Anwar Sarang Rembang pada akhirnya terus naik dan menjadi lebih dikenal. 

    Model & Kegiatan Pendidikan

    Pondok Pesantren Al-Anwar awal mulanya merupakan pondok pesantren yang berbasis pada kitab salaf, akan tetapi seiring dengan menanggapi tuntutan zaman, perkembangan Pondok Pesantren Al-Anwar pun semakin berkembang dan membuka empat cabang dan model yaitu antren Al-Anwar I, Al-Anwar II, Al-Anwar III serta Al-Anwar IV.

    Pertama, Pondok Pesantren Al-Anwar I yang dikhususkan bagi santri yang ingin mendalami kitab-kitab salaf secara murni. Lebih dikenal sebagai pesantren yang kental dengan salafiyahnya. Pesantren yang pertama kali didirikan oleh KH. Maimoen Zubair dan diasuh langsung oleh beliau, yang kemudian sekarang diteruskan oleh putra-putra beliau.

    Kedua, Pondok Pesantren Al-Anwar II yang diasuh oleh KH. Abdullah Ubab MZ sebagai wadah bagi para santri yang ingin mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama atau yang dikenal dengan pendidikan formal.            Pondok Pesantren Al-Anwar II telah diresmikan pada tahun 2009 oleh Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Nuh, DEA yang menjabat sebagai menkominfo pada waktu itu. Di PP. Al-Anwar II ini membawahi pendidikan formal di bawah naungan LP. Ma’arif NU tingkat SD, SLTP, dan SLTA dengan nama MI, Mts, dan MA. Al-Anwar.

    Ketiga, Pondok Pesantren Al-Anwar III diasuh oleh Dr. KH. Abdul Ghofur MZ sebagai wadah yang mencetak sarjana-sarjana islami dan dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi yang dikenal dengan sebutan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar dengan beragam jurusan.

    Bangunan dan gedung Pondok Pesantren Al-Anwar III ini merupakan bantuan dari Menpora RI berupa RUSUNA (Rumah Susun Sederhana) yang kemudian diresmikan sebagai Pondok Pesantren Al-Anwar III oleh Bapak H. Djan Faridz pada tahun 2012.

    Di dalamnya didirikan Yayasan Pondok Pesantren Al-Anwar III yang membawahi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar yang diresmikan oleh Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si (yang menjabat sebagai menteri agama) bersamaan diresmikannya RUSUNA tersebut.

    Keempat, Pondok Pesantren Al-Anwar IV diasuh oleh KH. Taj Yasin Maimoen sebagai wadah untuk mencetak santri yang profesional berbasis produksi dan kewirausahaan yang membawahi lembaga pendidikan formal Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK yang mulai dibangun pada tahun 2018 M.

    Keempat lembaga tersebut letaknya terpisah, Pondok Pesantren Al-Anwar I terletak di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang. Sedangkan Pondok Pesantren Al-Anwar II, III, dan IV terletak di Dusun Gondanrojo Desa Kalipang Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, kurang lebih 3 KM ke arah barat dari Desa Karangmangu.

    Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Al-Anwar tidaklah merubah karakter salafiyyah yang dimiliki tapi masih getol untuk mempertahankannya, juga tidak menutup mata terhadap tuntutan zaman yang syarat dengan kemajuan dalam segala bidang utamanya dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun dalam kaitan tersebut Pondok Pesantren Al-Anwar tetap menjadikan pelajaran-pelajaran salaf sebagai pondasi sehingga merupakan menu wajib yang harus ada dalam semua tingkat pendidikan yang ada.

    Pendidikan Pesantren

    Ponpes al-Anwar bercorak salafi mumi, sehingga kegiatan utamanya adalah kajian kitab salafi/kuning. Jenis Kegiatan pendidikan yang diselenggarakan adalah Madrasah Diniyah, Madrasah Takhassus, Taman Pendidikan al-Quran, Madrasah Ghozaliyah dan Madrasah Muhadhoroh. Madrasah Diniyah dibuka untuk masyarakat sekitar dan juga santri mukim. Begitu juga TPA pesertanya adalah dari masayarakat sekitar dan santri. Sedangkan pendidikan khusus santri adalah Madrasah Ghozaliyah dan Madrasah Muhadhoroh. Kajian kitab dilakukan setiap habis salat fardhu.

    Materi kajiannya adalah: fiqih, ushul fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, balaghah, akhlaq/ tasawuf, tafsir Quran, hadis, mustholah hadis, tajwid, mantiq, qowaidul fiqhiyyah, faro’id, falak/ilmu tafsir. Sedangkan kitab yang digunakan adalah: Sullamul Munajat, Safinatun Naja, Sittin Masalah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Tuhfatut-Thullab, al-Mahalli, Mabadi’ul Fiqih, Kasyifatussyaja (fiqih); Latho’iful Isyarat, Ghoyatul Wusul, Syarh Waraqat (ushul fiqih); Aqidatul Awam, Faridatul Bahiyyah, Bad’ul Amaly, Jauharatut Tauhid, Kifayatui Awam, Ummil Barahin, Husnul Hamidiyyah (tauhid); al-Ajrumiyah, Syarh Imriti, Tuhfatui Ahbab Syudurud Dzahab, Mughni Tashriftyah, al-Tashif, Qowa’idus Maqshud, Unwanud – Dlaraf (sharaf), Durusul Balaghah, Jauharul Maknun, Talhishul Miftah. Uqudul Juman (balaghah); Ta limul Muta`allim, Minhajul Abidin, Akhlaqul Banin (akhlak/tasawuf); Tafsir al-Jalalain, Tafsir Munir (tafsir al-Quran); Abi Jamrah, Bulughul Marom, at-Tajridus Shorih, Jawahirul Bukhori, Arba’in Nawawi, Shohih Muslim (hadis); Qawa’idul Asasiyyah, Manhalul lathif, Minhajul Mughits mustholah hadis); Syifa’ul Janan, Hidayatul Mustafid, Tuhfatul Athfal, Jazariyyah Idhohul Mubham, Sullamul Asybah wan Nadho’ir, Faro’idul qowaidul fiqhiyyah); Rohbiyyah Faro’id, Iddatul Faridh (faro’id Falakiyyah, Fathur Ro’ufal mun-Nayyiroin, Faidhul Khobir (falak).

    2. Kegiatan Ekstrakurikuler

    Kegiatan ektrakurikuler di Ponpes al-Anwar sifatnya temporer, artinya dilakukan pada saat saat tertentu saja, disesuaikan dengan kegiatan santri. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan adalah olahraga, seperti sepak bola, bulu tangkis dan tenis meja.

    Semua kegiatan tersebut mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan ditangani oleh santri. Sebelum melakukan kegiatan, santri terlebih dahulu membentuk kepengu- rusan selama periode satu tahun, kemudian membuat program. Setelah itu melaporkan kepada pirnpinan untuk meminta saran.

    3. Identitas Pesantren Al-Anwar Sarang

    Satu hal yang pasti dari pesantren ini adalah tradisi pendidikan salafiyahnya yang dipertahankan. Bagi ponpes Al Anwar Sarang nomor satu adalah kitab salaf berbahasa arab. Memang sudah berniat menjadi penjaga tradisi salaf. Pondok Al Anwar Sarang menjadi mercusuar saat yang lain lebih fokus pada pendidikan formal. Meskipun saat ini sudah disediakan pilihan pendidikan formal. Namun tetap mempertahankan tradisi utama yaitu kitab kuning.

    Jadi kalau ke pesantren ini sudah bisa dipastikan Anda melihat sosok sarungan, berbaju koko, dengan kopyah, kemudian duduk-duduk santai dengan model duduk bersila ngaji kitab, seperti layaknya Gus Baha. Kenikmatan santri di Ponpes Al Anwar Sarang adalah ketika membaca kitab.

    Tradisi ngaji kitab di pesantren ini yaitu dengan model sorogan, maju satu persatu ke ustadz, dan bandongan, yaitu sama-sama kepada masayech tidak terhapuskan. Ini memang identitas pesantren salaf seperti layaknya Sidogiri Pasuruan. 

    Pengasuh

    Pengasuh atau lebih sering dikenal dengan istilah kyai merupakan sosok yang paling penting (key person) dan menentukan dalam pengembangan dan manajemen pondok pesantren. Di samping itu, kharismanya tak jarang menjadi pemicu kedatangan santri dari segala penjuru propinsi untuk belajar di pondok pesantrennya. Dalam kondisi yang terakhir disebut, alasan datang belajar tidak lagi didasarkan pada keindahan atau kemegahan gedung maupun kelengkapan fasilitasnya.

    KH. Maimoen Zubair sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar adalah sosok yang paling berperan dalam perkembangan Pesantren. Beliau berjuang sejak dari nol hingga Pondok Pesantren Al Anwar berkembang sedemikian pesat, baik dari sisi jumlah santri mapupun luas area komplek Pesantren. Di usia beliau yang senja dan kesibukannya yang begitu menyita waktu, beliau masih aktif mendidik dan menggembleng para santri secara konsisten. Kealiman, kepribadian, kearifannya sangat dikagumi oleh para santri maupun koleganya.

    Alih-alih beberapa pondok pesantren di Indonesia mulai membuka diri terhadap kurikulum non Pesantren (Salaf atau Tradisional) dan bahkan meninggalkan ciri-ciri kesalafan sistemnya, beliau dibantu oleh putra-putranya yang seluruhnya jebolan lembaga-lebaga pendidikan ternama di Timur Tengah- malah berusaha mempertahankan kesalafan (ketradisionalan) Pondok Pesantren Al-Anwar. Sebuah tindakan yang berani di tengah-tengah “perubahan” wawasan masyarakat.

    Berikut nama para pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar serta lembaga pendidikan di mana para pengasuh “menimba dan meminum untuk dituangkan kembali”:

    No.NamaLembaga PendidikanNegara
    1KH. Maimoen ZubairMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    2KH. Abdullah Ubab MZMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    3KH. Muhammad Najih MZMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    4KH. Aufal MaromMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    5KH. Majid Kamil MZMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    6KH. Abdur Rouf MZMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia
    7KH. Abdul Ghofur MZ MAUniversitas Al Azhar KairoMesir
    8KH. Muhammad Wafi MZ LcUniversitas Zamalik KairoMesir
    9KH. Taj Yasin MZMa’had Ta’hily Mujamma’ As-Syaikh Ahmad KaftarooSyiria
    10KH. Muhammad Idror MZMa’had Sayyid Al Maliki MakkahSaudi Arabia

    Santri, Kyai dan Guru

    Jumlah santri yang menimba ilmu di Muhadhoroh Ponpes al-Anwar saat ini kurang lebih delapan ribu santri.  Di antaranya santri Pondok pesantren Al Anwar 1 yang mencapai empat ribu santri putra dan seribu santri putri. Sementara Pesantren Al-Anwar 2, jumlah santri sekitar tiga ribu lebih yang terdiri 1.503 santri Madrasah Aliyah, 1.529 santri MTs, dan 130 santri ibtida.

    Para santri tersebut diasuh oleh satu kyai dan satu nyai, dua badal kyai dan dua badal nyai dan 45 ustadz/guru (36 putra dan sembilan putri). Latar belakang para pengasuh tersebut adalah SD/MI 18 orang, SLTP/MTs 13 orang, SLTA/MA 113 orang, dan semuanya berpendidikan pesantren. SLTP/ MTS, SLTA/MA di wilayah sekitar. Sebagian ustadz/guru mengajar MI/SD, SLTP/MTs, SLTS/MA di wilayah sekitar.

    Sarana dan Prasarana

    Menilik jumlah santri yang ada maka fasilitas yang tersedia di Pondok Pesantren Al Anwar adalah jauh dari cukup. Di satu sisi kisah klasik berkaitan ketersediaan dana adalah kendala yang dihadapi pihak Pengasuh dan pengurus lainnya. Namun di sini lain keinginan luhur untuk tidak membebani para santri dengan berbagai pungutan adalah sebuah tuntutan dan keharusan.

    Meskipun berada dalam posisi dilematis -dengan semangat kebersahajaan- Pondok Pesantren Al Anwar tetap berusaha memberikan pelayanan dan fasilitas pendukung yang selayaknya sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana yang dinginkan.

    Letak geografis Pondok Pesantren Al Anwar yang berada tepat di tepi laut utara mengakibatkan minimnya ketersediaan air tawar bersih yang layak digunakan untuk memasak dan mandi para santri. Kendala ini juga yang dirasakan oleh masyarakat sekitar sejak dulu. Untuk mendapatkan air tawar bersih, para santri menyebar menuju sumur-sumur air tawar di lokasi sekitar yang jaraknya -paling dekat- lebih kurang 1 (satu) kilometer dengan cara berjalan kaki.

    Untuk mengatasi kendala ketersediaan air tawar, alhamdulillah pihak Pondok Pesantren Al Anwar telah berhasil mengalirkan air bersih dari beberapa sumur miliknya melalui pipa-pipa yang panjangnya berkilo-kilo meter. Sebuah proyek besar yang juga memerlukan perjuangan besar. Dalam skala masyarakat desa Sarang, proyek pipanisasi air bersih ini merupakan proyek spektakuler.

    Untuk menunjang kelancaran proses pendidikan, Ponpes al-Anwar memiliki sarana prasarana yang meliputi:

    1. Fasilitas Pondok Pesantren Al-Anwar 1:

    Terdapat 106 Kamar santri putra dan 32 kamar santri putri, 15 kamar mandi putra dan 11 kamar mandi santri putri, 4 kolam wudhu santri putra dan 2 kolam wudhu santri putri, 15 WC santri putra dan 12 WC santri putri, 3 sumber air santri putra, 7 sumur santri putra dan 2 sumur santri putri, 8 komputer santri putra dan 1 komputer santri putri, 2 perpustakaan santri putra dan 1 perpustakaan santri putri, 4 kantin santri putra, dan 2 kanti santri putri, 11 aula santri putra dan 6 santri putri, 2 koperasi santri putra dan 2 santri putri.

    • Fasilitas Pondok Pesantren Al-Anwar II:

    Pondok Pesantren Al-Anwar II terdiri dua jenjang pendidikan yaitu, MTS dan MA dengan fasiltas yang ada berupa 12 ruang belajar, 3 gedung perkantoran, 2 asrama masing-masing 2 lantai dan 2 rumah dinas.

    Tradisi Istimewa Santri Al Anwar Sarang

    Salah satu program yang dijalankan untuk meningkatkan hafalan dan nadham adalah dengan menggunakan metode lalaran atau muhafadzoh. Para santri akan berkumpul dalam satu tempat dengan tanpa penerangan, mereka bersama-sama melantunkan bait-bait kitab Alfiyah yang terdiri 1000-an bait.

    Maka kalau Anda lewat akan terdengar pesantren bergemuruh dengan begitu indah. Dengan roman kebahagiaan, mereka melantunkan bait kitab Alfiyah.

    Tradisi yang tidak kalah penting adalah Bahsul Masail. Ini merupakan tradisi pendalaman persoalan yang muncul dan dicari hukumnya dari kitab-kitab salaf. Tradisi ini menjadi pangkal dari keilmuan dan biasanya lahir dari tradisi ini calon ulama dan pimpinan pondok pesantren.

    Sumber Dana dan Usaha Ekonomi

    Dana penyelenggaraan dan pengelolaan berasal dari iuran sukarela santri dan dari kekayaan pimpinan. Disamping itu, Ponpes juga menerima sumbangan dan berbagai pihak, seperti pemerintah, swasta, donatur tidak tetap dan LSM. Selain itu, Ponpes memiliki usaha ekonomi berupa koperasi yang menyediakan kebutuhan sehari-hari santri dan masyarakat sekitar.

    Program Pengembangan

    Program pengembangan Ponpes Al-Anwar meliputi pengembangan fisik dan nonfisik. Pengembangan fisik meliputi penambahan fasilitas, ruang asrama santri, ruang perpustakaan, ruang koperasi, kamar mandi/WC dan sebagainya. Pengembangan tersebut disesuaikan dengan dana yang ada.

    Pengembangan non-fisik, meliputi: pengembangan partisipasi para alumni, masyarakat dan keluarga besar Ponpes; kaderisasi pimpinan Ponpes, saat ini KH Maimun Zubair mengirimkan putranya untuk mendalami ilmu agama di Mesir (S2) dan di Mekah (SI), dua putranya yang lain melanjutkan pendalaman ilmu agama di Syria dan Armenia; memperluas jaringan komunikasi dan kerjasama dengan berbagai kalangan; dan pengembangan keagamaan masyarakat melalui dakwah.

    Biaya Pendaftaran Ponpes Al Anwar Sarang

    Pendaftaran ponpes Al Anwar Sarang bisa dilakukan dengan biaya bermacam-macam tergantung dari jenis pendidikan yang ingin ditempuh. Berikut rangkuman kami dari informasi yang berhasil kami himpun.

    • Untuk biaya di Ponpes Al Anwar I bagi santri baru akan dikenakan biaya pendaftaran sekitar Rp. 283.000,- untuk 4 bulan. Sedangkan santri yang lama akan dikenakan biaya sekitar Rp. 258.000.
    • Sedangkan untuk biaya pendaftaran di pesantren Al Anwar II akan dikenakan biaya pendaftaran sekitar Rp. 1.125.000 bagi santri putra, sedangkan Rp. 1.170.000 bagi santri putri.
    • Sedangkan biaya pondok di Al Anwar III, untuk santri putra kurang lebih Rp. 1.045.000, sedangkan santri putri kurang lebih Rp. 1.170.000.
    • Biaya pendaftaran di Al Anwar IV untuk biaya SMK kurang lebih biaya yang harus dibayarkan sebesar Rp. 1.135.000.

    Alamat:

    Jika Anda ingin berkunjung ke pesantren ini bisa mengikuti Google maps dengan alamat Karangmangu, Sarang Rembang – Jawa Tengah. Adapun website resminya bisa dikunjungi di sini atau menghubungi nomor Telp. 0356- 411321.

    Source: Direktori Pesantren | ppalanwar.com | alanwar02.com | ppalanwar3.com | panduanterbaik.id | Jawapos

    Facebook Comments Box

    Latest articles

    Terbaru

    spot_img