Profile Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang

Kabupaten Jombang dikenal dengan banyaknya pondok pesantren (ponpes) dan juga ulama- ulama besar Indonesia. Salah satu pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, tepatnya berada di Desa Denanyar. Ponpes ini didirikan oleh K.H. Bishri Syansuri, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Setelah mengeyam pendidikan agama, beliau berinisiatif mendirikan pondok pesantren di Desa Denanyar.

Sejarah Berdiri dan Pengembangan Pesantren

Daerah berdirinya Pesantren ini merupakan tempat yang jauh dari sentuhan moralitas agama.  Desa Denanyar, dulunya terkenal sebagai pusat kemaksiatan melakukan lima hal Mo Limo. Mo Limo sendiri terdiri dari dua kata yaitu Moh yang berarti tidak dan Limo berarti lima hal dengan demikian Mo Limo adalah tidak melakukan lima hal. Lima Hal tersebut adalah Moh Main berarti tidak bermain judi, Moh Ngambe yang berarti tidak meminum minuman yang memabukkan, Moh Maling yang berarti tidak mencuri barang orang lain, Moh Madat tidak menggunakan barang yang menyebabkan candu, Moh Madon yang berarti tidak bermain wanita.

Dulunya, Denanyar terkenal dengan lima kemaksiatan ini, namun justru itulah yang membulatkan tekad KH. M Bishri Sansuri, untuk mendirikan pondok pesantren di tempat yang berjarak 2 Km arah Barat kota Jombang. Dengan dorongan istrinya Nyai Hj. Noor Khodijah dan mertuanya KH. Hasbullah serta gurunya KH. Hasyim Asy’ari, pada tahun 1917 diwujudkanlah keinginan itu. Berangkat dari sebuah surau kecil dan empat orang santri, dimulailah kegiatan pondok pesantren. Ponpes ini bisa dikatakan Ponpes yang paling muda di antara pondok pesantren lainnya di Jombang seperti Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras dan PonPes Tebuireng.

Di samping itu, Kyai kelahiran 18 September 1886 di Tayu Pati ini juga kerap melakukan dakwah di luar pesantren, keliling dari satu desa ke desa lainnya. “Waktu itu sudah menjadi kondisi rutin kalau di tengah jalan Mbah Bishri tiba-tiba dicegat orang. Bahkan ada pula yang sampai nglurug ke sini,” tutur KH. Abdul Mujib Shohib mengkisahkan.

Pada awal didirikannya pondok pesantren ini, hanya dibangun Pondok untuk santri putra karena pada saat itu dianggap tidak lazim jika santri putri mondok di pesantren. Namun dengan seizin K.H. Hasyim Asy’ari, beliau pun mendirikan Pondok Pesantren Putri Denanyar pada tahun 1921. Tiga tahun setelahnya dibangun Madrasah Ibtidaiyah (SD) Mamba’ul Huda yang kemudian diganti menjadi Mamba’ul Ma’arif dan secara bersamaan Pondok Pesatren Denanyar menjadi Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif.

Setelah itu, dua tahun kemudian dibangun Madrasah Tsanawiyah Putra dan pada 1928 dibangunlah Madrasah Tsanawiyah Putri. Kemudian tahun 1962 dibangun Madrasah Aliyah Putra Putri yang sesuai SK menteri agama RI No.24 tahun 1969 menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang sebelumnya berstatus swasta menjadi negeri, yakni MTsN dan MAN.

Upaya pengembangan institusi pendidikan masa kini dan masa depan terus dilakukan, termasuk di antaranya dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah Mambaul Ma’arif (status swasta) tahun 1993. Kemudian Madrasah Aliyah Mambaul Ma’arif (status swasta) pada tahun 2000. Dengan menggunakan sistem kurikulum terpadu yang mengacu pada kurikulum tetap dan kurikulum pesantren dengan spesifikasi ilmu-ilmu agama, bahasa Arab, bahasa Inggris.

Selain itu juga didirikan sekolah kejuruan dengan nama SMK Bisri Syansuri yang mulai dibuka pada tahun 1999. Disamping itu, Yayasan Mambaul Ma’arif juga mendirikan institusi pendidikan penunjang sebagai peletak tata nilai Islam dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Diantaranya: Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyah serta lembaga Bahasa Arab dan Inggris (LBAI).

Hingga saat ini jumlah santri PP Mamba’ul Ma’arif mencapai 2000 santri. Jika ditambah dengan yang ada di lembaga pendidikan formal, jumlahnya berkisar pada 3500 santri. Semua siswa di madrasah, menurut KH. Mujib Shohib, wajib mengikuti materi pelajaran di Madrasah Diniyah yang dilakukan sore hingga malam hari. “Kalau cuma mengandalkan materi pelajaran sekolah di pagi hari, saya kuatir esensi pondok pesantren malah akan sirna,” tutur pengasuh pondok ini menandaskan. “Karena yang menjadi ciri khas pondok itu kan kitab kuning. Inilah yang menjadi rohnya Diniyah,” tambahnya.

Pengasuh

KH. M Bishri Sansuri

Nyai Hj. Noor Khodijah

KH. Imam Haromain Asy’ari

KH. Ahmad Wizar Ali

Pendidikan

Pendidikan Formal

1. PAUD ( Pendidikan anak usia dini ) Mambaúl Maárif

2. Madrasah Tsanawiyah Mambaúl Maárif ( Mu’allimin / Mu’allimat )

3. Madrasah Tsanawiyah Negeri

4. Madrasah Aliyah Mambaúl Maárif ( Mu’allimin / Mu’allimat )

5. Madrasah Aliyah Negeri

6. SMK Bisri Syansuri

Pendidikan Non Formal

1. Madrasah Diniyah Mamba’ul Ma’arif

2. LBAI ( Lembaga Bahasa Arab dan Inggris )

3. SAKAL ( Sekolah Kaligrafi Al – Qurán )

4. Taman pendidikan Al – Qurán ( TPQ )    

Ekstrakurikuler

    a. Keagamaan : Baca Tulis Al Qur’an, Kajian Kitab Kuning, Al Banjari

    b. Olahraga : Sepak bola, bola voli, basket, Beladiri

    c. Kepramukaan, PMR, PBB, PKS

    d. Kesenian: Hadrah, Seni Musik, Paduan Suara

Fasilitas

1. Gedung Sekolah milik sendiri

2. Pesantren

3. Ruang Guru dan Staff

4. Laboratorium Komputer

5. UKS

6. Masjid

7. Pembelajaran dilengkapi LCD Proyektor

8. Tempat Parkir

9. Internet dan Hotspot area

10. Lapangan Serbaguna

11. Aula

12. Perpustakaan

13. Kantin

14. koperasi Sekolah

15. Lab IPA

Source:

https://profesional.laduni.id/post/read/1105/pesantren-mambaul-maarif-jombang

https://www.brilio.net/creator/menyusuri-sejarah-berdirinya-ponpes-mambaul-maarif-denanyar-jombang-3b20e6.html

https://www.asadenanyar.com/p/berdirinya-pp.html

https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/24/174710679/moh-limo-ajaran-dakwah-sunan-ampel?page=all

Latest articles

Related articles

spot_img