More

    Mengenal Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan

    Thobib Al-Asyhar

    Sepertinya byk yang “kepo” sama lanjutan tulisan ini. Kenapa coba? Baik lah kalau begitu, saya akan lanjutken (minjem istilahnya pak Harto).

    Pesantren Al-Fatah, Temboro, memang fenomena. Selain besar dan memiliki cabang 164 lokasi, baik dalam maupun luar negeri, juga menonjol dari sistem yang diterapkan di pesantren tradisional umumnya. Wah pasti ada bedanya dong? Sabar yah, ambil nafas dalam-dalam, dan keluarkan pelan-pelan… 🙂

    Baca dulu: Mengenal Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan

    Sekarang saya ingin ngobrolin kesamaannya dulu. Seperti sy sebutkan di awal, bahwa pendiri pesantren ini sebenarnya pernah nyantri di pesantren NU, di Jawa Timur. Bahkan menurut info dari Ketua Yayasan, ustad Fahrurrozi (kebetulan namanya sama dengan Menag nih… Hehe) bahwa pendiri/pengasuhnya pernah menjadi pengurus Tanfidziyah/Syuriyah NU Wilayah setempat. Artinya, dari sisi kultur dan geneologinya, pesantren ini punya “nafas” yang sama dengan pesantren NU umumnya. Apa buktinya?

    Sejak kali pertama bertemu dengan pengurus yayasan, ustadz Fahrur dan ustadz Taufiq yang menjemput, saya memohon agar dikasih buku tentang profil pesantren ini. Iya, maksudnya supaya saya mengetahui persis sejarahnya. Gak nebak-nebak gitu lah. Minimal tahu apa dan bagaimana pesantren ini punya visi misi, begitu kira-kira menurut para aktifis mahasiswa.

    Namun hingga kami pamit pulang belum (tidak) sempat dikasih. Mungkin habis stok, atau belum cetak ulang. Tapiii, saya dapat gantinya. Saat pertemuan dengan para santri, saya dikasih buku tipis warna hijau kuning berjudul: Al-Kutub al-Muqorroroh: Program Pondok Pesantren Al-Fatah. Apa isinya?

    Yups. Buku ini semacam daftar kitab-kitab rujukan kurikulum yang dikaji di takhassus dan daurah di pesantren ini. Setelah saya baca, kitab-kitab yang dikaji semuanya tidak asing buat saya, yang alumni pesantren NU. Saya bisa sebutkan, misalnya: untuk al-Daurah al-Takhassus: Tafsir al-Jalalain (tafsir), al-Syarh al-Qawim (tauhid), Ihya Ulum al-Din, Al-Hikam (kitab al-Nashaih). Untuk kitab fikihnya: Minhaj al-Thalibin (fikih al-Syafii).

    Nah, untuk kitab-kitab kurikulum Madrasah Diniyyah ada sekian banyak kitab-kitab Salafiyyah pesantren yang bisa dibilang tidak ada bedanya dengan pesantren salaf NU di Jawa. Kitab-kitabnya bisa disebut: Fikih: al-Mabadi’ al-Fiqhiyyah ‘ala Madzahib al-Imam al-Syafii, Tauhid: ‘Aqidatul awam, Tarikh: Khulashah Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

    Nahwu: Matan Al-Jurumiyyah, Syarh Ibnu Aqil, Sharaf: al-Amtsilah al-Tashrifiyyah. Bahkan tajwid menggunakan kitab Syifa’ al-Jinan fi Tarjamah Hidayat al-Shibyan, karangan alm KH. Achmad Muthohar Abdurrahman Al-Maraqy. Kebetulan nih muallif-nya kyai saya di Mranggen Demak dulu, dan masih banyak lagi kitab-kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren salaf NU. Absolutely, utk kurikulumnya, sama percis dah dengan pesantren salaf pada umumnya.

    Sistemnya pun is really salafiyah. Ngaji ala pesantren Jawa dah. Gak peduli santri dari mana, dari luar Jawa, luar kota, luar negeri, luar angkasa sekalipun, pokoke ngaji ndlosor di lantai. Gurunya pake meja kursi yang menyatu. Konon model meja-kursi begitu biar kursinya gak mudah hilang. Maklum dah tuh pesantren ini isinya orang semua.

    Jangan tanya jadwal belajarnya ya bro. Jam belajar di pesantren ini dari jam 03.00 hingga 23.30 malam. Nyaris 24 jam. Tidur mah jangan banyak-banyak. Imam Syafii itu konon tidurnya hanya 2 jam perhari. Selebihnya buat muthala’ah, mengajar, dan ibadah. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani kalau shalat subuh sering pake wudlunya shalat isya. Emang anak kos mahasiswa, shalat subuhnya pake wudlunya shalat dhuha… Kikikikkkkk…  #kabooorrr

    Demikian juga dengan tradisi pesantrennya. Mereka biasa baca shalawat sama-sama, baca barzanji, dan lain-lain. Wiridnya pun tidak beda dengan pesantren salaf. Apalagi bulan Maulid kek gini. Nah, saat kami dtg ke tempat pertemuan dengan para santri, kami disambut dengan nyanyian “thala’al badru”. Malu sih sebenarnya, emang siapa gue nih. Sahabat Muhajirin bukan, apalagi pasukan Badar… 🙂

    Artinya, ketika saya memasuki pesantren ini nyaris gak ada bedanya saat saya pernah nyantri sekian tahun lalu di Mranggen, Demak. Hanya saja, kalau dulu saya masak sendiri, nyambel terong sendiri, kalau di mari santri tinggal makan karena sdh disediakan oleh pondok. Enak ora enak, sing penting kenyang… Soalnya, kalau makan disediakan pondok para santri sudah hafal lauknya setiap hari… Hehe…

    Nah, ada kebijakan khas pesantren yang harus diikuti oleh semua santri. Aturannya sangat ketat, santri dilarang bawa HP. So, mereka gak ada tuh main-main game, selfie-selfie narsis di Instagram, FB, chat-chat pake WA atau LINE. Nop! Itu larangan. Sekali lagi Forbidden!

    Bagi pesantren ini, “electronic devices” itu dapat menganggu santri dalam “tafaqquh fi al-din”. Juga gak ada tuh namanya TV, radio, apalagi Wifi. Lha HP aja kagak ada mosok ada Wifi. Ini sih kayak dulu gue mondok masbro. Kalau ketahuan santri bawa tape/radio langsung dibanting di depan umum sama pengurus. Udah gitu, kena ta’zir pulak!

    Terus kalau santri mau komunikasi dengan keluarga gmn? Jangan khawatir dah. Di sana ada semacam Wartel. Kalau mau menghubungi keluarganya tinggal antri nelepon, bayar, selesai! Lalu kalau orang tua santri mau menghubungi anaknya bijimane brey? Nah ini nih yang agak-agak sulit. Paling ya menghubungi pengurusnya, lalu diumumkan pake speaker bla bla bla… Tahu kan pesantren ini brejel-brejel isinya orang semua, kayak ikan asin… Hehe…

    Nah, sekarang saya mau ngejelasin perbedaan pesantren ini dengan pesantren NU pada umumnya. Eit… Ntar dulu… Sabar yah… Saya tak nyeruput kopi sik… Hehe…

    > Bersambung…

    Facebook Comments Box

    Latest articles

    Terbaru

    spot_img