in

Profil Pondok Pesantren Islam Al-Iman Muntilan

“Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan”.

Kalimat itulah yang tertulis di atas gerbang masuk Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan, Dusun Patosan, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Kalimat itu yang menjadi semboyan serta semangat dibangunnya Pondok Pesantren ini demi untuk merangkul semua golongan.

Perguruan “Al-Iman” didirikan oleh Ustadz Yunus Muhammad Alwan, pada bulan November 1942 di Dusun Beteng, Kelurahan Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi ini berada sekitar 30 km di sebelah utara kota Yogyakarta, 12 km sebelah selatan kota Magelang.

1) Periode Rintisan (1942 – 1963)

Sumber: https://www.facebook.com/ppaliman

Ustadz Yunus Muhammad Alwan adalah alumni Madrasah Alawiyah Arabiyah di Singapura. selepas belajar di Singapura, Ustadz Yunus Muhammad Alwan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren (PP) Termas, Jawa Timur, dan Madrasah Al-Iman, Kotamadya Magelang.

Sebagai pendiri, beliau telah meletakkan dasar pendidikan dengan sisitem salafiyah/ tradisional. Dua tahun kemudian, ini dilengkapi dengan sistem klasikal, yang telah berjalan selama 21 tahun.

Pendidikan dengan sistem ini telah menghasilkan kader-kader muballigh terkenal di Magelang pada tahun 70-an. saat itu alumnus mencapai 4500 orang lebih.

2) Periode penataan (1963 – 1986)

Tepat pada 1963, kurikulum PP Al-Iman disempumakan, dengan menganut kurikulum terpadu sebagai penjabaran dari ketentuan Surat Keputusan Bersama tiga Menteri: Menteri Agama, Menteri P & K dan Menteri Dalam Negeri. Dengan mengikuti kurikulum tersebut, tamatan dari madrasah di lingkungan PP ini dapat meneruskan ke jenjang sekolah umum yang lebih tinggi.

Berkat penampahan kurikulum terpadu ini, alumni Pondok Pesantren Al-Iman Muntilan dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Adapun prosentasi pelajarannya adalah 65% prodi agama/Bahasa Arab dan 35% prodi umum. Kondisi ini berjalan hingga tahun 1986 dengan pasang surut.

3) Periode Pengembangan (1986 – 2001)

KH. Muhammad Hadi Yunus MA, Pimpinan PPI Al-Iman

Pada 26 November 1986, Ustadz Yunus Muhammad Alwan wafat, kepemimpinan PP Al-Iman diteruskan oleh putranya, Ustadz KH. Muhammad Hadi Y, MA. yang telah berpengalaman dengan latar belakang pendidikan pesantren juga alumni beberapa perguruan tinggi di dalm dan luar negeri. Sebagai penerus sang ayah, KH Muhammad Hadi Yunus, MA terus mengembangkan pesantren, di masa beliaulah Pesantren Islam Al Iman muntilan berkembang sangat pesat, santri-santri berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara.

Untuk menampung santri yang terus membludak, dan karena alasan menghindari “keresahan” antara sesama organisasi keagamaan, lokasi PP dipindah dari Dusun Beteng, Kelurahan Muntilan ke Dusun Patosan, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, yang berjarak + 500 m dari lokasi yang lama.

Pondok Pesantren Islam Al-Iman tampak dari ketinggian yang berada di samping hamparan tanaman padi yang sangat hijau

Pada masa kepemimpinan KH Muhammad Hadi, guna mendukung penyelenggaraan pendidikan di PP ini dibentuk Yayasan Pesantren al-Iman, di depan Notaris Kunsri Hastuti dengan nomor Akta Notaris No: 0271 27 April 1988 dan pengesahan sebagai organisasi kemasyarakatan di bidang sosial dengan No: 429/ORSOSNL99.

Sarana prasarana pun semakin lengkap dan maju. begitu pula kurikulum pesantren, pada saat itu terbagi menjadi 3 (tiga) tingkatan yaitu : Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan juga Tarbiyatul Muballighin wal Mu’allimin (TMM)/setara Diploma I, juga kelas persiapan (Takhossus) dan kelas paralel.

Berbagai upaya terus dilakukan dan dikembangkan untuk membangun umat di masa depan hingga pada tanggal 25 April 2001, KH. Muhammad Hadi Yunus, MA menghadap sang Khaliq. Dan kepemimpinan Yayasan dipegang Kyai Juhdan Fatoni, sedang kepemimpinan sehari-hari PP dipegang MA oleh KH Muhammad Zuhairi S.Ag, putra Alm. KH Muhammad Hadi.

4) Periode pembinaan (2001 – Sekarang)

Kyai Muhammad Zuhaery, MA.

Pasca wafatnya KH. Muhammad Hadi Yunus terjadi vacum of power maka kepemimpinan pesantren sementara digantikan oleh Kyai Juhdan Fathoni, hingga pada tahun 2002 kepemimpinan diamanahkan kembali pada putra KH Muhammad Hadi, yakni Kyai Muhammad Zuhaery, MA. beliau merupakan figur pemimpin yang telah mengenyam pendidikan di berbagai pesantren dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Pada masa kepemimpinan ini kurikulum pesantren terus dikembangkan dan disempurnakan. TMM yang dulu ditempuh setelah lulus MA kini TMM merupakan sistem pendidikan kurikulum pesantren dimana di dalamnya terdapat Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Takhassus.

Masyarakat dan Potensi Wilayah

Setiap disebut nama Kota Muntilan, maka dalam benak masyarakat tergambar komplek Pasturan, tempat yang sejak dahulu menjadi pusat penyebaran agama Katolik di Indonesia. Pasturan merupakan sebuah komplek luas yang terdiri dari Pemakaman Van Lith, Rama Sanjaya, Gereja Katolik, Sekolah-sekolah TK, SD, SMP, SMU dan Politeknik Bruderan.

Secara kuantitas, jumlah orang Islam di Kecamatan Muntilan masih mayoritas, namun mutu lembaga-lembaga pendidikannya di bawah mutu pendidikan yang diselenggarakan lembaga pendidikan Katolik.

Komplek PP Al-Iman berada di Dusun Patosan, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan. Komplek ini terletak tidak sampai 300 m dari komplek Pasturan. Sedikit banyak, situasi masyarakat memberi wama penyelenggaraan pengajaran di PP ini. Untuk Untuk menjawab tantangan itu, lisanul haq (perbuatan nyata) dijadikan salah satu tujuan pesantren yang antara lain diwujudkan dengan adanya mata pelajaran Ilmu Kekristenan (Kristologi) Pengajarnya adalah orang-orang Islam yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang kekristenan.

Organisasi Kelembagaan

Pengelolaan PP Al-Iman dilakukan secara kolektif dalam wadah organisasi Yayasan PP al-Iman. Struktur yayasan terdiri dari dewan penasehat, ketua/pengasuh, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan ketua-ketua bidang. Seluruhnya berjumlah 36 orang. Selain itu ada juga dewan pengelola yang merupakan gabungan antara anggotaanggota keluarga Kyai Muhammad Hadi Y, MA. (alm.)-besarnya sekitar 1/3 dari fungsionaris yayasan—dengan orang-orang bukan keluarga Kyai. Pola ini merupakan pergeseran fungsi kyai yang tradisional ke arah pola manajemen modern.

Kegiatan Pendidikan

1. Pendidikan sekolah

Di lingkungan PP Al-Iman diselenggarakan program-program pendidikan: Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Tarbiyatul Muballighin wal Mu’allimin:

a. Madrasah Tsanawiyah; madrasah ini menerima siswa tamatan Madrasah Ibtidaiyah dan SD. Untuk tamatan SD dan Ml yang belum matang, disiapkan kelas takhasus selama satu tahun terutama untuk belajar bahasa Arab.

b. Madrasah Aliyah; madrasah ini menerima siswa tamatan Madrasah Tsanawiyah dan SMP. Untuk tamatan SMP dan Madrasah Tsanawiyah di luar pondok disiapkan kelas takhassus selama satu tahun, terutama untuk belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris.

c. Tarbiyatul Muballighin wal Muta’allimin; merupakan lembaga pendidikan di bidang dakwah yang sederajat dengan Diploma satu.

  1. Pendidikan kepesantrenan

Kegiatan santri di lingkungan PP Al-Iman Muntilan diatur dengan jadwal yang ketat Setiap hari, para santri harus bangun pukul 04.00 pagi untuk persiapan salat Subuh, mandi, berpakaian dan makan pagi. Pada pukul 06.45 para siswa melakukan apel. Pukul 07.00-09.40, para santri belajar di kelas tahap pertama. Pada pukul 10.00-13.40 para siswa belajar di kelas tahap kedua. Setelah itu, mereka melakukan salat Zhuhur. Pada pukul 14.00-15.20 para siswa belajar di kelas tahap ketiga. Setelah ini, para siswa bersiap melakukan salat Asar, istirahat, belajar mandiri dan melakukan salat Maghrib. Setelah salat Maghrib, para santri istirahat, belajar mandiri, salat Isya’ dan seterusnya.

  1. Kegiatan ektrakurikuler

Secara umum, di PP Al-Iman telah banyak dilakukan kegiatan ekstrakurikuler, antara lain berupa pelatihan koperasi, jahit- 1 menjahit, industri, ekonomi, peternakan, penghijauan, majelis taklim dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan bekerjasama dengan berbagai departemen, LSM, dan perusahaan. Namun, diakui bahwa keterampilan-keterampilan yang diajarkan tersebut kurang berkembang.

Sarana dan Prasarana

Guna menopang penyelenggaraan pendidikan, PP Al-Iman Muntilan memiliki tanah sekitar dua Ha tanah, yang terdiri atas tanah wakaf, tanah dengan hak milik, tanah dengan hak guna bangunan, dan ada pula tanah sewa.

Di atas tanah tersebut kini berdiri hangunan-bangunan asrama putra dengan kamar mandi empat buah, sebuah masjid, lapangan olah raga voli, badminton, perpustakaan dan lain-lain.

Ciri khas

Ciri khusus yang dimiliki adalah pengembangan keterampilan berbahasa Arab, Inggris dan Indonesia.

Santri, Kyai dan Ustadz/Guru:

Di PP Al-Iman kini ada 285 santri yang tengah belajar. Sebagian besar, kurang lebih 240, tinggal di asrama yang disediakan, dan 45 santri lainnya tidak tinggal di asrama. Santri mukim terdiri atas 183 laki-laki dan 122 perempuan.

Tenaga pimpinan dan pengasuh PP terdiri atas dua orang kyai, tiga orang badal, 35 ustadz/guru serta empat orang pegawai. Dilihat dari aspek pendidikannya, dua orang ustadz tamatan SLTA, 19 orang Sarjana Muda/Diploma dan 15 orang sarjana. Dari pengasuh, dua di antaranya bantuan Departemen Agama, sedang ustadz/ guru lainnya merupakan tenaga honorer Yayasan.

Program Pengembangan

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang ada di lingkungan PP Al-Iman bertujuan untuk dapat mendukung program pendidikan, sekaligus tempat latihan kerjä santri. Usaha ekonomi yang ada ialah koperasi pesantren.

Source: Direktori Pesantren | FB ppaliman

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Profil Pondok Pesantren Pabelan

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren API Tegalrejo